KETAPANG, Senin 15 Juni 2026 – Semangat ukhuwah Islamiyah dan pelestarian budaya yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan mewarnai pelaksanaan Malam Tirakatan dan Doa Bersama dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Tahun Baru Jawa 1 Suro, serta Hari Jadi ke-29 Paguyuban Jawa Kabupaten Ketapang, yang berlangsung di Pendopo Joglo Paguyuban Jawa, Kelurahan Sukaharja, Kecamatan Delta Pawan.
Kegiatan yang berlangsung penuh kekhidmatan tersebut dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Ketapang H. Achmad Sholeh, ST., M.Sos selaku Ketua Umum Paguyuban Jawa Kabupaten Ketapang, Anggota DPRD Kabupaten Ketapang M. Puadi, S.Si, perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Ketapang, Lurah Sukaharja beserta jajaran, para sesepuh, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta keluarga besar Paguyuban Jawa dari berbagai wilayah di Kabupaten Ketapang.
Acara diawali dengan salat Isya berjamaah, dilanjutkan pembacaan Surah Yasin, tahlil, doa bersama, sambutan Ketua Paguyuban Jawa, serta tausiyah keagamaan yang disampaikan oleh KH. Achmad Madani, M.Pd, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ibtida’i Penatang Sindur.
Dalam sambutannya, H. Achmad Sholeh mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum Tahun Baru Islam sebagai sarana memperkuat keimanan, mempererat tali silaturahmi, dan meningkatkan kepedulian sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, Grebeg Suro yang selama ini menjadi tradisi masyarakat Jawa tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi wadah memperkokoh persaudaraan, memperbanyak doa, serta menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat keamanan, kesehatan, dan kebersamaan yang dirasakan masyarakat Kabupaten Ketapang.
“Momentum 1 Muharram hendaknya menjadi sarana muhasabah bagi kita semua untuk memperbaiki diri, memperkuat ibadah, serta menjaga kerukunan dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Kabupaten Ketapang,” ujar Achmad Sholeh.
Pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur. Salah satu tumpeng yang disajikan merupakan kiriman dari Bupati Ketapang Alexander Wilyo, S.STP., M.Si, sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan, sosial, dan budaya yang dilaksanakan oleh Paguyuban Jawa Kabupaten Ketapang.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, KH. Achmad Madani mengupas makna hijrah sebagai proses perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Ia menjelaskan bahwa kalender Hijriah yang ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA mengambil peristiwa hijrah Rasulullah SAW sebagai tonggak peradaban Islam.
Menurutnya, hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebaikan, dari kemalasan menuju semangat ibadah, dari perpecahan menuju persatuan, serta dari kelalaian menuju ketaatan kepada Allah SWT.
“Orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Tahun Baru Islam harus menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas iman, ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial kita,” pesan KH. Achmad Madani di hadapan jamaah.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan media sosial dari sikap saling menghujat, mencela, dan menyebarkan kebencian. Menurutnya, umat Islam harus menjadi pembawa kesejukan, kedamaian, dan solusi bagi kehidupan masyarakat.
Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, tausiyah yang diselingi humor-humor edukatif tersebut mengajak jamaah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak sedekah, menjaga keharmonisan keluarga, serta tidak menjadikan urusan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.
Sebagai bentuk implementasi nilai kepedulian sosial yang diajarkan Islam, Paguyuban Jawa Kabupaten Ketapang juga akan menggelar khitanan massal bagi 120 anak pada Selasa 16 Juni 2026 di Pendopo Joglo Paguyuban Jawa. Selain itu, panitia juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat.
Kegiatan sosial tersebut merupakan bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-29 Paguyuban Jawa Kabupaten Ketapang sekaligus wujud syukur dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Grebeg Suro, dan Hari Jadi ke-29 Paguyuban Jawa Kabupaten Ketapang ini, diharapkan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah, gotong royong, kepedulian sosial, serta pelestarian budaya yang selaras dengan ajaran Islam dapat terus tumbuh dan menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat Kabupaten Ketapang yang religius, harmonis.
Humas DPRD Ketapang