KETAPANG,13 Februari 2026 – Suasana hangat, religius, dan penuh kebersamaan terasa kuat di Pendopo Joglo Paguyuban Jawa Kabupaten Ketapang pada Jumat malam. Ratusan warga dari berbagai latar belakang berkumpul dalam Doa Bersama Bulan Ruwah/Sya’ban (Megengan) sebagai bentuk syukur sekaligus persiapan menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum spiritual dan sosial yang memberi energi positif bagi masyarakat Kabupaten Ketapang. Tradisi megengan yang telah mengakar dalam budaya Jawa dihidupkan kembali dengan nuansa kekeluargaan dan nilai-nilai Islam yang sejuk.
Hadir dalam kegiatan tersebut unsur Forkopimda dan tokoh agama, di antaranya perwakilan Pemerintah Kabupaten Ketapang, Dandim 1203 Ketapang, Danlanal Ketapang, perwakilan Polres Ketapang, Ketua MUI, Ketua NU, serta para sesepuh dan tokoh masyarakat.
Megengan: Menahan Diri, Membersihkan Hati
Ketua DPRD Kabupaten Ketapang H. Achmad Sholeh, S.T., M.Sos., yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Paguyuban Jawa Kabupaten Ketapang, dalam sambutannya menjelaskan bahwa megengan memiliki filosofi mendalam.
“Megengan berasal dari kata ‘menahan’—menahan hawa nafsu, menahan perilaku buruk, serta menahan lapar dan dahaga sebagai latihan sebelum Ramadhan,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam budaya Jawa tradisi ini juga dikenal dengan berbagai istilah seperti nyadran, padusan, ojenan, hingga dandangan. Semua memiliki makna persiapan diri, baik lahir maupun batin.
Megengan juga identik dengan tradisi berbagi apem sebagai simbol permohonan maaf dan rasa syukur. Di Jawa bentuknya bundar, sementara di Ketapang menyerupai bantal. Tradisi ini sekaligus menjadi awal dari budaya saling memaafkan menjelang Ramadhan.
“Tradisi ini penting agar anak-cucu kita tetap memahami akar budaya yang sarat nilai spiritual. Kita ingin Ramadhan datang dalam suasana hati yang bersih dan penuh persaudaraan,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat Jawa di Ketapang yang berasal dari berbagai daerah seperti Kudus, Jepara, Lamongan, Banyumas, Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Surakarta, namun hidup rukun dalam keberagaman.
Dukungan Pemerintah untuk Harmoni dan Kemajuan Daerah
Mewakili Pemerintah Kabupaten Ketapang, Sekdis Parbud Rahmad Rohendi, S.H., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang memadukan budaya dan nilai keagamaan tersebut.
Menurutnya, tradisi seperti megengan memiliki dampak positif bagi daerah karena memperkuat persatuan, toleransi, dan karakter religius masyarakat.
“Ramadhan harus kita sambut dengan kebersamaan. Ketika masyarakat rukun, saling menghormati, dan aktif dalam kegiatan positif seperti ini, maka Ketapang akan semakin damai dan maju,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga dinilai memberi dampak sosial dan ekonomi, karena tradisi yang melibatkan masyarakat mampu menggerakkan interaksi sosial, mempererat silaturahmi, bahkan mendorong aktivitas ekonomi kecil di sekitar kegiatan.
Tausiyah: Amal Ikhlas dan Harapan Husnul Khatimah
Tausiyah agama disampaikan oleh KH. Ahmad Asnawi, pengasuh Pondok Pesantren Darul Ma’ruf Kudus, Jawa Tengah. Dalam ceramahnya, beliau menekankan bahwa adat dan tradisi dihormati dalam Islam selama tidak bertentangan dengan syariat.
“Ramadhan adalah bulan istimewa umat Nabi Muhammad SAW. Amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa bernilai besar di sisi Allah,” tuturnya.
Beliau mengingatkan pentingnya memanfaatkan bulan Sya’ban untuk memperbanyak doa, memohon umur panjang untuk ibadah, rezeki halal yang cukup, dan husnul khatimah. Surga, katanya, tidak bisa diukur dengan harta dunia—nilainya jauh melampaui apa pun yang bisa dibayangkan manusia.
“Yang paling penting adalah amal yang benar, ikhlas, dan halal. Itulah yang membawa keberkahan hidup dan keselamatan di akhirat,” pesannya.
Ramadhan sebagai Energi Positif untuk Ketapang
Acara ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah yang semakin mempererat keakraban. Senyum, salam, dan saling memaafkan menjadi pemandangan indah malam itu.
Megengan di Ketapang membuktikan bahwa budaya lokal dan nilai Islam dapat berjalan beriringan, menciptakan suasana religius yang menggembirakan sekaligus memperkuat persatuan.
Menjelang Ramadhan 1447 H, masyarakat Kabupaten Ketapang diajak untuk menjadikan bulan suci sebagai momentum kebangkitan spiritual, penguatan kepedulian sosial, serta peningkatan kualitas diri.
Dengan hati yang bersih, niat yang tulus, dan semangat kebersamaan, Ramadhan diharapkan membawa keberkahan tidak hanya bagi pribadi, tetapi juga bagi kemajuan dan kedamaian Kabupaten Ketapang secara keseluruhan.
Humas DPRD Ketapang